Oppenheimer, Filmnya, Bom Atom, dan Komunisme Amerika

Ditulis oleh: Ade Irwansyah

Suara Wanita – Di suatu malam yang cerah di bulan Februari 1934, J. Robert Oppenheimer, dosen fisika teoretis yang cemerlang di Universitas Berkeley, California, berkencan menikmati pantai San Francisco yang indah bersama mahasiswinya dari dalam mobil.

Pada satu kesempatan, Oppenheimer minta ijin untuk berjalan sendirian. Sang mahasiswi mengijinkan. Ia akan menunggu di mobil, katanya. Lama menunggu, si mahasiswi ketiduran. Ketika terbangun di pagi hari ia mendapati Oppenheimer belum kembali. Panik, takut sesuatu yang buruk terjadi pada teman kencannya, si mahasiswi menemui polisi yang kebetulan lewat. Pencarian secara serius kemudian dilakukan. Polisi menyisir pantai. Ada juga yang dikirim ke apartemen Oppenheimer untuk mencari petunjuk.

Ternyata, polisi tersebut malah menemukan Oppenheimer sedang tertidur pulas. Polisi lantas membangunkan Oppenheimer. Kepada polisi, Oppenheimer bercerita ia terus berjalan sambil memikirkan permasalahan fisika hingga ia tiba di apartemennya dan lalu tertidur. Ia lupa telah meninggalkan teman kencannya di pinggir pantai sendirian.

Pada saat peristiwa itu terjadi, Oppenheimer yang kelahiran 1904 belum genap 30 tahun. Koran San Francisco Chronicle memuat berita jenaka itu dan memberi judul “Profesor Pikun Meninggalkan Gadis Sendirian di Parkiran dan Pulang Sendirian.”

Tidak ada adegan itu di film “Oppenheimer ” garapan Christopher Nolan. Cerita itu ada di buku “Bomb” yang ditulis Steve Sheinkin (edisi Indonesia terbit 2015). Buku “Bomb” tidak membahas Oppenheimer seorang. Tapi perlombaan senjata siapa yang lebih dulu membuat bom atom beserta aksi spionase yang menyertai.

Soal spionase atau mata-mata komunis Uni Soviet di Project Manhattan yang dipimpin Oppenheimer, disinggung sedikit di film biopik versi Nolan. Namun Nolan alpa menunjukkan sisi “Profesor Langlinglung” dari Oppenheimer. Bahkan, saya tak ingat ada adegan jenaka di film “Oppenheimer” Nolan. Filmnya amat serius. Terlalu serius.

Bila dirinci, film “Oppenheimer” terbagi dalam tiga cerita: A, B, dan C. Cerita A bagaimana Oppenheimer membangun karir sebagai fisikawan teoretis dan membuat bom atom; cerita B tentang tuduhan Oppenheimer penganut komunis dan mata-mata Soviet: cerita C soal sidang konfirmasi Laksamana Strauss di Senat AS. Ia dicalonkan jadi anggota kabinet.

Di AS, calon menteri diharuskan menjalani sidang konfirmasi di depan Senat. Biasanya sidang itu sekadar formalitas. Memilih menteri adalah hak prerogatif presiden dalam sistem presidensial yang dianut AS. Namun pertanyaan seputar hubungan Strauss dengan Oppenheimer mengganjal mimpi Strauss jadi menteri.

Sebenarnya, film “Oppenheimer” ya bercerita tentang 3 hal itu, namun Nolan mengemasnya sedemikian rupa dengan gaya naratif (alur maju-mundur serta 3 cerita yang saling berkelindan minta perhatian di saat bersamaan) dan “gimmick” khas Nolan (kamera IMAX). Tanpa dua hal itu, saya rasa film ini masih tetap asyik dinikmati bila digarap Ron Howard, misalnya. Howard berpengalaman membesut film-film biopik atau sejarah seperti “Apollo 13”, “A Beautiful Mind”, atau “Genius: Einstein”.

Bila Howard ditaruh di kursi sutradara di “Oppenheimer” dan menceritakan filmnya dengan narasi linear pun pesan seperti yang ingin disampaikan Nolan di sini bakal kesampaian juga. Namun, mungkin butuh seorang Nolan untuk menyampaikan amanat pada khalayak yang lebih luas tentang dunia yang akan lebih damai tanpa senjata nuklir agar lebih sampai pesannya.

Maka dari itu, yang paling menarik buat saya di film “Oppenheimer” justru pesan yang ingin disampaikan Nolan. Tentang pemihakannya pada bom nuklir. Sejak frame pertama, Nolan menyampaikan pendapatnya tentang Prometheus dan mempersonifikasikan Oppenheimer, Bapak Bom Atom kita, sebagai Prometheus zaman modern.

Kita akan menemukan, niat baik membuat bom atom semula untuk mendahului ilmuwan Nazi Jerman yang juga mulai membuat bom atom. Ketika Nazi kalah perang dan Jepang juga dipastikan akan kalah, alasan untuk melanjutkan membuat bom atom sebenarnya jadi tidak lagi valid. Sebagian ilmuwan menentang proyek pembuatan bom atom dilanjutkan, namun akhirnya proyek itu jalan terus. Dilema ini yang coba ditangkap Nolan. Oppenheimer menjadi kendaraan baginya sebagai pembuka kotak pandora.

Begitu bom atom akhirnya dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, dunia resmi melalui fase sebelum bom atom dijatuhkan dan setelah bom atom dijatuhkan. Perlombaan senjata antar negara adidaya jadi tak terhindarkan. Kini, bom nuklir tak hanya dimiliki AS dan Rusia, tapi juga negara negara non-demokratis dan tak stabil seperti Korea Utara, India dan Pakistan. Dunia akan musnah terbakar seperti hitung-hitungan matematis yang keliru bisa saja terjadi.

Kemudian soal yang menarik juga: komunisme Amerika. Saya tak pernah membayangkan AS jadi negara komunis. Sejak awal negara ini lahir, falsafahnya adalah kapitalisme dan individualisme yang didasari iman Kristiani. AS adalah negara imigran yang penduduknya semula adalah orang-orang yang lari dari feodalisme Inggris dan membangun masyarakat yang mengandalkan kerja keras individu untuk meraih sukses (baca: kaya raya).

Masyarakat AS tak punya trauma Dickensian di mana dampak buruk kapitalisme dan industrialisasi melahirkan rakyat yang anti kaum kapitalis dan memimpikan masyarakat komunis yang sama rata-sama rasa. Jika Charles Dicken melahirkan Oliver Twist tentang derita anak kecil jadi buruh, AS justru punya Mark Twain yang melahirkan petualangan Tom Sawyer, tentang bocah bertualang di alam bebas.

Maka, saya selalu merasa komunisme di Amerika adalah buah dari kegenitan intelektuil. Semacam kekaguman dari jauh melihat revolusi di Eropa dan Rusia ketika wong cilik yang menderita akhirnya menggulingkan kekuasaan kaum berpunya. Revolusi Bolshevik Rusia bagi orang AS adalah romantisisme alih-alih kemenangan nyata rakyat tertindas atas raja yang lalim.

Seperti digambarkan film ini, munculnya komunisme Amerika semula di kampus-kampus alih-alih di pabrik atau ranca-ranca padang rumput savana nan luas. Andai tak terjadi Perang Dingin, komunisme Amerika sepatutnya tak dianggap ancaman keamanan nasional.

Namun, ketakutan ancaman Merah (baca: Uni Soviet) di masa Perang Dingin telah melahirkan McCArthyisme. J. Robert Oppenheimer menjadi korbannya. Saya senang film ini ditutup dengan MCarthyisme akhirnya kalah dan orang yang membuatnya jadi tertuduh (Strauss) tak memperoleh keinginannya karena dijegal senator muda yang kelak jadi presiden AS dan menandai era baru.

Nolan tak mengelaborasi lebih jauh tentang Komunisme Amerika. Sebab, bagi Nolan (baca: Hollywood alias Amerika) soal komunisme ini bukan hal penting dalam masyarakat Amerika kontemporer. Buat mereka, ada isu yang lebih penting, yakni bipolarisme: kanan-kiri, konservatif-liberal, Demokrat-Republiken, kulit putih-kulit hitam,dan lain-lain. Bagi Nolan, akar McCarthysme adalah perpecahan di masyarakat.

Kita di Indonesia bisa menganalogikan McCarthyisme sebagai era Orde Baru yang paranoid pada kaum komunis dan komunisme. Seperti di AS dulu pun, saya juga menganggap komunisme Indonesia pasca-65-66 adalah kegenitan intelektual. Sampai hari ini pun bila ada yang mengagumi Marxisme, Leninisme dan semacamnya, saya akan menganggap mereka tengah mengalami masa kegenitan intelektual semata.

Kekecewaan pada kapitalisme yang tak manusiawi atau oligarki yang melahirkan koncoisme, misalnya, berlabuh pada utopisme masyarakat tanpa kelas (baca: komunis). Karena bila orang tersebut mengalami komunisme di masa Lenin atau Stalin, mungkin orang tersebut ikut lenyap oleh rezim komunis atau diasingkan ke gulag di Siberia…