Cave Pavilion Hotpot: Kuliner Pedas di Gua China Bekas Perang Dunia II

Suara Wanita – Kota Chongqing, yang punya reputasi sebagai satu dari empat kota “tungku” di China, dikenal dengan suhu panas dan masakan pedasnya. Ini termasuk hotpot, pot berisi kuah kaldu pedas di atas meja yang legendaris.

Chongqing sendiri merupakan ibu kota sementara Tiongkok selama Perang Dunia II, tepatnya saat invasi Jepang.

Hingga kini, bangunan-bangunan yang menjadi saksi sejarah di sana masih berdiri kokoh. Meski beberapa telah berubah fungsi menjadi kafe, panti mahjong, hingga restoran.

Dari sekian banyak bangunan bersejarah yang terdapat di Chongqing, salah satu yang sering jadi incaran pecinta hotpot adalah Cave Pavilion Hotpot, restoran unik yang berlokasi di goa bekas tempat perlindungan penduduk dari serangan udara.

Baca juga: 5 Kafe Instagramable di Jakarta, Asyik untuk Foto-foto!

Kala itu, ketika mendengar suara sirene serangan udara, penduduk akan berlari memadati tempat tersebut, yang seringkali berada dalam kondisi gelap gulita.

Tercatat, ada ribuan orang tewas dalam serangan bom udara Jepang.

Dok/AP News

Suasana yang khas

Saat memasuki restoran ini, kita akan merasakan suasana masa lampau yang kuat. Batu-batu yang jadi pondasi utama masih bisa kita lihat. Meski sudah setengah tersembunyi oleh etalase minuman berpendingin dan kursi plastik yang ditumpuk.

Di depan pintu, ada tulisan china, yang berarti: “Cave Pavilion Hotpot. Didirikan tahun 1989.” Dan saat berada di dalam, kita akan melihat meja dan kursi yang berbaris rapi di dua terowongan panjang dan sempit, yang dihubungkan oleh sebuah koridor.

Agar semakin sejuk, pengelola telah mengecat atap restoran dengan lukisan langit malam berbintang. Kita juga bisa melihat lukisan pesawat tempur Perang Dunia II yang tergantung gagah di dinding.

Menu hotpot yang lezat

Di restoran ini, pengunjung dapat menumpahkan babat, daging sapi, ikan, dan sayuran ke dalam hotpot berisikan kaldu mendidih yang diisi dengan cabai merah mengambang, serta merica Sichuan yang membuat bibir mati rasa.

Bagi yang tidak suka pedas, tersedua kaldu yang tidak pedas, meski dalam wadah yang lebih kecil.

“Kami menghindari panasnya musim panas di tempat perlindungan serangan udara ini,” kata Tang Ronggang, salah seorang pengunjung, mengutip dari AP News. “Di sini sejuk, tempat yang bagus untuk tinggal di musim panas.”

AP News menambahkan, tradisi hotpot di kota Chingqing berasal dari abad ke-16, ketika para kuli makan daging dan sayuran, yang direbus dengan rempah-rempah yang berapi-api, setelah seharian bekerja keras di dermaga di Sungai Jialing.

Kian hari, hidangan ini lantas menyebar ke mana-mana, termasuk ke Cave Pavilion Hotpot yang bersejarah ini.