Riwayat Keluarga dengan Gangguan Kejiwaan dapat Tingkatkan Risiko Depresi Pascamelahirkan

Suara Wanita – Seorang ibu yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kejiwaan, berisiko mengalami depresi pascamelahirkan mungkin hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu tanpa latar belakang ini.

Pernyataan ini diungkap menurut meta-analisis global, dari 26 studi di lima benua yang melibatkan lebih dari 100.000 wanita, yang diterbitkan Rabu di JAMA Psychiatry.

Mengingat bahwa riwayat keluarga gangguan kejiwaan merupakan faktor risiko yang kuat untuk depresi usai melahirkan, para peneliti Denmark pun mengimbau agar para calon ibu yang memiliki riwayat tersebut untuk melakukan pelaporan diri individu selama perawatan rutin, di sepanjang kehamilan mereka.

Langkah ini diharapkan akan memungkinkan intervensi pencegahan yang “tepat waktu dan tepat sasaran.”

Para peneliti mencoba mencatat di luar lingkup analisis mereka, untuk menyelidiki mengapa riwayat keluarga gangguan kejiwaan merupakan faktor risiko depresi usai melahirkan, “tetapi kemungkinan besar karena faktor genetik dan lingkungan selama pengasuhan dan di kemudian hari.”

Menurut para peneliti, ada bukti ilmiah yang tidak konsisten tentang apakah riwayat keluarga dengan gangguan kejiwaan dan depresi pascamelahirkan betul-betul terkait.

Beberapa penelitian telah mengidentifikasi risiko keluarga untuk kondisi tersebut, tetapi penelitian lain, yang mengumpulkan semua faktor risiko untuk depresi pascamelahirkan, seringkali tidak.

Studi ini secara khusus mengeksplorasi risiko mengembangkan depresi pascamelahirkan dalam waktu satu tahun setelah kelahiran bayi.

Baca juga: Tak Sadar sedang Hamil saat Pesta Alkohol, Apa Risikonya?

1 dari 8 wanita mengalami gejala depresi pascamelahirkan

Para peneliti memperkirakan bahwa 10% hingga 15% ibu baru mengalami kondisi depresi pascamelahirkan, yang menjadi bagian dari komplikasi umum persalinan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menempatkan angka tersebut sedikit lebih rendah, memperkirakan bahwa sekitar 1 dari 8 wanita mengalami gejala depresi pascamelahirkan.

Tetapi CDC mencatat bahwa diagnosis depresi saat melahirkan meningkat pada tingkat yang tujuh kali lebih tinggi pada tahun 2015 dibandingkan pada tahun 2000.

CDC menggambarkan depresi pascamelahirkan sebagai lebih intens dan lebih tahan lama daripada yang disebut “baby blues.” Ini kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran, kesedihan, dan kelelahan yang dialami oleh banyak wanita setelah melahirkan.

Untuk studi baru, para peneliti secara luas mendefinisikan riwayat keluarga gangguan kejiwaan sebagai “gangguan kejiwaan apa pun di antara anggota keluarga dekat dan besar.”

Mereka meninjau studi yang mewakili Asia, Australia, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Riwayat keluarga gangguan kejiwaan sebagian besar dinilai dengan menggunakan kuesioner yang dilaporkan sendiri, tetapi juga dengan wawancara klinis.

Kondisi ini dievaluasi dari satu hingga 52 minggu setelah melahirkan, rata-rata pada 10 minggu pascapersalinan.