Ketika Senyummu Hadir, Kesederhanaan Romansa 1990-an

Suara Wanita – Tahun 1990-an disebut saluran TV National Geographic sebagai “the last great decade” alias dekade hebat yang terakhir. Di era ’90-an kita disuguhi Nirvana, film Pulp Fiction dan The Matrix, serial Friends dan Seinfeld dan banyak hal lagi yang masih kita cintai hingga hari ini.

Dalam survey yang dilakukan National Geographic Channel dengan Kelton Global, masyarakat AS percaya, dekade 1990-an adalah “the last of the good old days.”

Sebanyak 77 persen merasa negeri mereka lebih baik pada dekade 1990-an dibanding sekarang, lalu 74 persen merasa pada 1990-an lebih aman daripada saat ini.

Sepakat. Rasanya di tahun 1990-an suhu Bumi tak sepanas sekarang. Jalanan juga tak semacet saat ini. Hidup juga terasa nyaman dan teratur. Waktu itu, rasanya juga hidup lebih sederhana dan bersahaja.

Salah satu kebersahajaan dekade 1990-an bisa dilihat di film Ketika Senyummu Hadir (1991). Bila filmnya hadir saat ini mungkin akan jadi bahan tertawaan.

Meski begitu bukan berarti filmnya tak layak tonton di zaman kiwari. Justru film karya almarhum Sophan Sophiaan ini sekarang bisa dianggap sebagai sebuah cenderamata dari masa silam yang telah lewat, suatu masa yang kini tak mungkin terulang lagi. Suatu masa saat hidup lebih sederhana.

Ketika Senyummu Hadir: Cerita Cinta Roy dan Ninuk

Tengok kisahnya. Di sebuah sekolah unggulan di Jakarta, tersebutlah dua murid teladan, Roy (Sandy Taroreh) dan Ninuk (Vivi Samodro). Ketika bermain basket di lapangan sekolah, tangan Roy memegang buah dada Ninuk, meninggalkan bekas telapak tangan di kaos putihnya.

Sampai di sini Anda harus membayangkan, telapak tangan itu berupa sepuluh jari nyeplak tepat di kaos Ninuk. Anda boleh tertawa betapa konyolnya hal itu bila dilihat dari sudut pandang hari ini. Namun, itu menjadi pangkal soal serius. Ninuk menangis. Roy merasa bersalah.

Keduanya disidang oleh guru sekolah. Orangtua masing-masing dipanggil. Orangtua Ninuk, yang Jawa tulen, malah mengadakan acara ruwatan buat putrinya tersebut agar nasib anaknya tak jadi sial gara-gara payudaranya dipegang laki-laki.

Pintarnya film ini, penonton dibuat bertanya-tanya apakah Roy sengaja atau tidak sengaja memegang buah dada Ninuk. Kita dibuat gemas oleh film ini. Meski merasa bersalah, jangan-jangan Roy memang ingin memegang buah dada Ninuk. Dari raut mukanya kita tahu, Roy memendam perasaan cinta pada Ninuk.

Romansa era 1990-an

Demikian pula Ninuk. Ia tentu tak senang payudaranya dijamah tanpa izin—entah sengaja atau tidak. Namun, ia juga bimbang karena pelaku penjamahan itu adalah Roy. Pada satu kesempatan, misalnya, kita melihat Ninuk memeluk kaos yang bercap tangan Roy di bagian buah dadanya itu.

Selanjutnya kita melihat perjuangan Roy menebus kesalahannya. Ia harus menghadapi ayah Ninuk yang belum memaafkan tindakannya. Di lain pihak, Ninuk juga turut berjuang agar Roy dimaafkan sang ayah. Duh… romantis, ya.

Mungkin seperti itulah kisah cinta awal 1990-an. Menjamah payudara cewek idaman di lapangan basket bisa jadi cerita film yang mendayu-dayu, mengaduk emosi, serta romantis. Hal seperti itu rasanya takkan mungkin dibuat lagi hari ini.

Ditulis oleh: Ade Irwansyah