Korea Selatan Tawarkan Bantuan Besar-besaran ke Korea Utara, Asalkan Tinggalkan Senjata Nuklir

Suara Wanita – Korea Selatan tawarkan bantuan kepada Korea Utara, untuk secara dramatis meningkatkan ekonomi di negara berjuluk Negeri Para Pertapa itu.

Diungkap oleh Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol, Senin (15/8), bantuan itu akan dilakukan asalkan rezim Korea Utara saat ini berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi atau pelucutan senjata nuklir.

Yoon membuat proposal dalam pidato menandai Hari Pembebasan, sebuah hari libur yang memperingati kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II dan berakhirnya pemerintahan kolonial Tokyo atas Korea.

“Saya di sini untuk mengusulkan inisiatif berani yang secara dramatis dapat meningkatkan ekonomi Korea Utara dan mata pencaharian rakyatnya,” kata Yoon dalam sebuah upacara di halaman kantor kepresidenan, mengutip laman UPI News.

“Asalkan, Korea Utara berhenti mengembangkan senjata nuklir dan transisi ke denuklirisasi substansial.”

Baca juga: Hati-hati! Anjing Peliharaan bisa Tertular Cacar Monyet dari Majikannya

Yoon awalnya membuat tawaran tersebut selama pidato pelantikannya pada bulan Mei, tapi dia belum memberikan rincian lebih lanjut sampai Senin kemarin.

“Kami akan menerapkan program pasokan makanan skala besar ke Korea Utara; memberikan dukungan infrastruktur pembangkit listrik, transmisi dan distribusi; dan melaksanakan proyek modernisasi pelabuhan dan bandara untuk perdagangan internasional,” kata Yoon.

Pemimpin Korea Selatan itu juga menawarkan bantuan dalam memodernisasi sektor pertanian dan medis Korea Utara, serta mengatakan bahwa Seoul akan membantu memfasilitasi investasi internasional.

Seperti diketahui, Seoul dan Washington telah meningkatkan keterlibatan militer, termasuk mengadakan latihan bersama pertama mereka dengan jet tempur siluman F-35A bulan lalu.

Pihak sekutu dijadwalkan untuk kembali ke latihan lapangan skala penuh minggu depan, dan ini membuat Pyongyang marah.

Sementara itu, Korea Utara telah menunjukkan sedikit minat dalam keterlibatan diplomatik atau denuklirisasi sejak pertemuan puncak Februari 2019 dengan Amerika Serikat.

Pertemuan Donald Trump, yang kala itu menjabat sebagai presiden AS, dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, berakhir tanpa kesepakatan.

Pyongyang sendiri hingga saat ini telah melakukan setidaknya 18 putaran uji senjata pada 2022, dan para ahli mengatakan negara rahasia tersebut tampaknya siap untuk melakukan ledakan nuklir ketujuh setiap saat.

Di samping itu, Yoon meninjau kembali janji kampanyenya untuk meningkatkan hubungan Seoul dengan Tokyo, yang semakin tegang dalam beberapa tahun terakhir karena kasus pengadilan tingkat tinggi yang melibatkan korban kerja paksa, dan perbudakan seksual di masa perang Korea.

Jepang dan Korea Selatan adalah tetangga yang “harus bekerja sama untuk menghadapi tantangan yang mengancam kebebasan warga dunia,” kata Yoon Senin.

“Ketika hubungan Korea-Jepang bergerak menuju masa depan, dan ketika misi zaman sejalan berdasarkan nilai-nilai universal, masalah masa lalu juga dapat diselesaikan dengan baik.”